Jumat, 30 Maret 2012

Lintang Kemukus

Lintang Kemukus*

Oleh Ochiko Humaira  


Namaku Lintang. Kata Ibu lintang itu bintang. Lintang kemukus, bintang berekor katanya. Aku lahir saat gelap malam dan bintang-bintang berkilauan. Tapi bagiku, bintang-bintang tak pernah berkilauan, tak terlihat bersinar.

"Kenapa aku tak dinamai Bulan?" aku bersandar di bahu perempuan yang kupanggil Ibu. Badannya ringkih namun terasa nyaman bagiku.

"Karena Bulan tak bersinar sendiri Nak" ia membelai rambutku  pelan. Beberapa kali jarinya tersangkut di rambut kusamku.

"Lintang bersinar?" mataku berkedip.

"Lintang bersinar dan orang-orang bisa melihatnya saat malam"

"Begitu?" tanyaku tak percaya. Ibu tak menjawab, tapi bisa kurasakan anggukan kepalanya. Aku tak pernah melihat bintang, tak tahu bagaimana sinarnya saat malam. Apa peduliku?

                                                                             ***

Suara lalu-lalang kendaraan dan ocehan manusia membangunkanku. Sudah pagi, orang-orang pergi ke pasar pagi-pagi. Aku menguap mengeluarkan bau jigong yang tak enak.

"Minggir, warungku  mau buka" suara bariton pak Sapto menyapaku. Terdengar suara papan-papan kayu digeser dan gembok kunci yang terbuka. Aku duduk, mengemasi karton cepat-cepat sambil mengumpulkan tenaga untuk bangun. Orang tua ini selalu bawel.

"Sudah bangun kau Nak, makanlah" tangan bu Sapto mengangsurkan bungkusan nasi padaku. Pasti nasi kuning. Aku mencium bau nasi kunyit dan bawang goreng.

"Buat apa kau beri dia nasi tiap pagi. Bisa miskin kita" pak Sapto menggerutu.

"Sudahlah pak," bu Sapto menyahut sambil berbisik pelan pada suaminya, aku tak bisa dan tak ingin mendengar. Paling-paling sekedar pernyataan iba perempuan tengah baya itu. Buru-buru aku pergi setelah mengucapkan terimakasih.

Aku paling suka menikmati sarapanku di pojok pasar, dekat jembatan di atas sungai. Mendengar suara riang anak-anak berangkat sekolah. Bercanda dan membicarakan pe-er atau guru-guru yang lucu. Hm, berapa usiaku? 12 atau 13? Ah, tidak penting, toh aku juga tak bisa sekolah.

"Ih, jorook..makan enggak cuci tangan dulu," suara ceria Desi terdengar riang. Aku mengangkat wajahku ke arah suaranya. Menepuk kedua tanganku ke kaos lusuhku. Ini artinya cuci tangan bagiku.

"Biarlah, lapar" jawabku singkat. Aku suka sekali jika Desi menyapaku, cuma aku tak bisa berbicara banyak padanya, malu.

"Hmm, Lintang enggak pingin sekolah?" Desi duduk di sebelahku, bau segar sabun mandi menghampiriku. Kapan terakhir aku mandi?

"Pingin, tapi enggak mungkin" aku menyuapkan nasi ke mulutku. Malas membahas ini lagi. Minggu lalu Desi menawariku tinggal di rumahnya, sekolah bersamanya, memang siapa aku?

"Mungkin saja, aku bisa bilang Mamaku, siapa tau dia bisa..."

"Aku buta Des..." potongku cepat. Aku tidak suka dikasihani. Mudah tersinggung pula. "Apa gunanya orang buta sekolah."

Desi mendadak diam. Aku merasakan helaan nafasnya yang panjang. Mungkin matanya berkaca-kaca sekarang, aku tak pernah tau bagaimana mata itu berkaca-kaca.

"Aku berangkat dulu, sudah siang" Desi meninggalkanku.

Sunyi. Suara lalu-lalang anak-anak terasa jauh. Ibu, aku ingin sekolah. Potongan telur dadar di mulutku terasa hambar sekarang.
                                                                            ***

Aku merasakan suara berbisik-bisik di sekitarku. Sebelum aku sadar, sebilang ranting menyodok tanganku. Aku meringis kesakitan. Kepalaku berputar, mencari arah suara.

"Orang gilanya bangun, pergi...!" suara anak-anak bergaung di kepalaku. Aku meraba sisi kanan, mencari tongkatku.

"Si buta dari gua hantu..." yang lain berkata seenaknya.

"Mana monyetnya?"

"Kamu monyetnya, hahaha..."

Tawa mereka riuh rendah buatku sesak. Buru-buru aku bangkit pergi. Hampir setiap hari anak-anak itu mengangguku, sudah biasa. Tetap saja rasanya sakit. Ibu, tak semua anak-anak berhati malaikat seperti kau bilang. Atau malaikat itu  jahat?
                                                                           ***


"Mama, kita terlambat..." tangan kecil Desi menggenggam Mamanya erat-erat. Butir-butir airmata meluncur deras, mengaliri pipi merahnya.

Sepulang sekolah tadi akhirnya Mamanya mengijinkan Desi membawa Lintang pulang. Sudah sebulan ini Desi selalu bercerita tentang Lintang, gadis manis berambut hitam sebahu yang tak mampu melihat. Hidupnya sendirian dan berpindah-pindah, seringkali di pasar. Ibunya tewas dalam tabrak lari tiga bulan lalu.

Mamanya mendekap bahu Desi erat, "Maafkan Mama sayang, seharusnya sejak kemarin kita menjemputnya..."

Tubuh Lintang basah kuyup dengan bibir biru kelu. Orang-orang mengerumuninya usai diangkat dari sungai. Ia terpeleset ke sungai saat menghindar dari gangguan anak-anak. Sungai itu tak terlalu dalam , namun arusnya deras. Dan Lintang buta. Mayatnya ditemukan dua hari kemudian, tersangkut akar pohon.
                                                                                       ***

  "Aah, Ibu...tolong..." tangan Lintang menggapai-gapai ke atas mencari pegangan. Tangannya sempat memegang ranting yang hanyut, apalah arti ranting, ia malah terbawa arus. Badannya timbul tenggelam diantara aliran sungai.

Semakin ia berteriak membuka mulut, semakin banyak air yang masuk melalui mulut dan hidungnya. Sesak dadanya. Lebih sesak daripada diejek anak-anak tadi. Lebih sesak dari kehilangan ibunya. Sesak ini begitu menyesakkan. Arus sungai terasa mengerikan, ia merasakan hal baru yang menakutkan.

Suara anak-anak semakin menjauh, tak memperhatikan si gadis buta yang terjatuh. Mereka asyik tertawa menirukan gaya monyet.

Gelap. Makin gelap. Lintang merasa matanya berkedip. Ia melihat banyak titik-titik bercahaya di atas sana. Titik-titik berkilauan di sekitarnya yang gelap. Itukah bintang Ibu?

Garasi, Maret 2012

Ochikohumaira adalah nama pena dari Yosi Prastiwi, mahasiswi salah satu kampus negeri di Yogyakarta. Cerpennya yang berjudul Hujan pernah dimuat di majalah Ummi.

*Juara 1 Event "Ini Karyaku" Komunitas Pena Santri Edisi Bulan Maret

Tidak ada komentar:

Posting Komentar