Rabu, 11 April 2012

KACA PECAH

KACA PECAH#


Jam satu malam lewat lima menit.
Kelopak mataku terasa berat. Rasa penat menggelayuti seluruh tubuh. Muka dan sekujur badan terasa lengket oleh peluh yang mengering. Sejak enam bulan lalu bertugas sebagai dokter Puskesmas di wilayah agak terpencil ini, hari ini adalah hari paling melelahkan bagiku.
Bagaimana tidak? Setelah kemarin semalaman lembur mengerjakan laporan, paginya menyetir sendiri mobil Puskesmas Keliling yang reyot itu ke ibukota kabupaten sejauh 100 km, dilanjutkan rapat sampai siang di kantor dinas kesehatan. Dalam perjalanan pulang, roda belakang mobil terperosok ke jalan berlumpur, terpaksa jalan kaki ke desa terdekat mencari bantuan. Petang hari sampai di rumah, belasan pasien sudah menunggu untuk dilayani. Baru saja selesai, jam sembilan malam, bidan desa melaporkan ada ibu melahirkan yang kejang-kejang. Terpaksa harus dibawa ke rumah sakit kabupaten, dengan mobil yang sama, yang lagi-lagi mogok dalam perjalanan pulang. Ternyata tangki BBMnya bocor. Hadeww... capeknya! Sesampainya di rumah aku langsung menghempaskan diri ke atas ranjang.
Seperti disedot ke dalam pusaran sumur ketiadaan yang dalam... aku sempat tidak ingat apa-apa lagi. Tiada mimpi. Tiada igauan. Hanya kehampaan yang melayang semakin dalam. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang menahanku. Seperti kait terhujam ke belakang otakku, kemudian dihelakan hingga terkerek naik ke permukaan. Kesadaran yang semula kucampakkan, tiba-tiba kembali merengkuh dan memagutku.
“Ayah.. ayah.. aduuh susah sekali dibangunkan!” Lamat-lamat kudengar suara istriku. “Bangunlah... orang itu menggedor-gedor pintu terus.”
Kemudian telingaku juga menangkap suara lain... brok! brok! brok!  Suara pintu depan digedor-gedor, disertai teriak orang memanggil. Sambil mengedip-ngedipkan mata aku menggeliatkan badan. Berat sekali rasanya untuk bangun. Aku beranjak duduk di tepi ranjang, berusaha mengumpulkan kesadaranku kembali. Suara gedoran di pintu semakin keras.
Ketika kesadaranku baru mulai terasa penuh, suara gedoran pintu itu malah berhenti. Hening sejurus... tiba-tiba dhuarr!! krompyanggg!!
Aku tersentak kaget. Istriku pun demikian. Kesadaranku langsung kembali 100%. Aku bergegas ke ke arah suara itu berasal. Di ruang depan, ruang tamu yang sekaligus dijadikan ruang praktek, kudapati kaca jendela telah hancur, pecahannya berserakan di lantai. Sebuah batu sebesar bola tenis tergeletak di meja. Ada bekas benturan di dinding, menandakan batu itu memantul di dinding sebelum jatuh ke atas meja. Terlihat melalui kaca jendela yang pecah, tiga orang laki-laki berdiri di depan rumah. Kubuka pintu dan keluar. “Ada apa ini?” sergahku.
Salah seorang yang termuda dan badannya paling besar, berjalan mendekat dengan telunjuk terangkat menudingku. “Bangsat kau! Orang sudah mampus baru kau buka pintu!”
“Apa maksudmu?” suaraku gemetar karena menahan geram.    
“Masih nanya lagi... Lihat nih, bapakku dari pagi mencret belum juga diobati. Pagi tadi ke sini kau tidak ada. Sore ke sini masih belum ada. Sampai sekarang dipanggil nggak keluar-keluar.” sahut orang itu.
“Ya Allah, Pak. Pagi tadi kan saya rapat dinas di kabupaten. Sorenya mana ada bapak ke sini?! Kalau sakit dari pagi kenapa tidak ke Puskesmas saja, kan ada petugas lain walaupun saya tidak ada?!” 
“Heh, banyak alasan pula!” orang itu membentak. “Apa gunanya dokter di sini? Tiap kali orang sakit kau tak pernah ada. Tahu ndak kamu.. aku ini ketua (menyebut sebuah nama LSM) di sini.”
“Aku tidak ada urusan dengan (kusebut nama LSM itu). Aku kerja bukan kamu yang menggaji. Lagipula tugasku bukan hanya mengobati orang, banyak pekerjaan lain dibebankan pemerintah padaku.”
“Enak aja kau ngomong... Kau ini digaji dengan uang rakyat. Kamilah rakyat! Kamilah tuanmu di sini! Bupati saja takut dengan kami. Lihat besok, kudatangkan seribu orang, kululuhlantakkan tempat ini!”
Pertengkaran pun memanas dan sepertinya bisa berujung kekerasan. Orang itu sudah siap melayangkan tinjunya. Tiba-tiba ada yang menarik bajuku dari belakang. Aku menoleh, ternyata istriku.
“Sudahlah,” katanya setengah berbisik. “Tengah malam begini, tak ada gunanya bertengkar, membahayakan dirimu sendiri.”
“Hai Pak...” tiba-tiba istriku menyela dari balik punggungku. Ia menyapa kedua orang lain yang dari tadi hanya termangu. “Apakah kalian datang ke sini hanya untuk bertengkar? Siapa sebenarnya yang sakit?”
“Eh ya.. anu Bu, ini paman saya... sakit perut.” kata yang seorang menunjuk orang tua di sebelahnya.
“Yang sakit masuklah!” istriku melambaikan tangan. Semula bapak tua itu ragu-ragu, tapi kemudian masuk juga ke dalam rumah. Pemuda yang beringas itu terdiam saja melihatnya. “Periksalah dulu!” bisik istriku lagi sambil menarik tanganku. “Urusan lain bisa ditunda besok pagi.”
Walaupun hatiku masih panas, tapi akhirnya kuturuti juga perkataan istriku untuk memeriksa bapak tua itu. Nada bicaraku agak lain saat menanyainya tentang sakit yang dideritanya, pendek-pendek dan tidak ramah seperti biasanya. Juga saat memegang jarum suntik dan menghisap obat dari ampulnya, kelihatan tanganku masih gemetar karena hati yang menahan amarah. Saat kuberikan obat-obat yang harus diminumnya di rumah, wajahnya menatapku (dengan air muka yang aku tahu artinya : berapa?). Tapi aku enggan menanggapi dan dengan gerakan kepala menyuruhnya keluar.
Di dekat pintu orang itu memegang tanganku, seraya mengatakan sesuatu dengan  suara pelan hampir tak terdengar, “Maafkan kami. Kami tak bermaksud begini...” Aku tak begitu memperhatikan. Kubukakan pintu untuk secara halus menyuruhnya pergi.
Orang tua itu berbicara kepada pemuda beringas itu, sepertinya menyuruh memberikan uang atau apa kepadaku, tapi pemuda itu hanya mengangkat bahu dan pergi begitu saja. Kedua orang itu memandangku sejenak, seperti mengucap terimakasih dengan wajah tak enak, kemudian berjalan pergi mengikuti pemuda itu.
“Kali ini takkan kubiarkan dia lolos begitu saja,”
“Terserah, apapun... lakukanlah besok pagi, sekarang tidurlah!” ujar istriku.
Tentang pemuda beringas itu, masih lekat dalam ingatanku kejadian sebulan yang lalu. Waktu itu dia membawa seorang anak yang terluka lengannya karena bermain pisau. Lukanya mengalirkan darah, walau tidak seberapa parah, tapi anak itu meraung-raung terus. Ketika akan menjahit luka itu, baru kuingat bahwa alat-alatnya belum disterilkan. Kututup luka itu dengan kasa steril dan kutinggalkan ke dapur untuk merebus dahulu alat-alat bedah minorku. Tiba-tiba pemuda itu menerobos masuk ke dapur, membentak dan menarik kerah bajuku. Ia bilang aku lambat melayani anaknya sampai hampir mati kehabisan darah.
Terlalu. Kali ini tak akan kubiarkan, aku mengutuk dalam hati.
* * *
Pagi hari, aku bergegas hendak melapor ke Mapolsek, tapi kemudian kuputuskan untuk lebih dulu menemui kepala desa setempat. Mendengar kejadian itu, seperti yang kuduga, kepala desa mencegahku untuk lapor polisi. Ia berjanji akan menyelesaikannya secara adat. Aku pun melunak, tapi memberinya batas waktu 1 x 24 jam untuk segera bertindak.
Hingga siang hari belum ada kabar dari kepala desa. Rasa kesal, marah, dan dendam kembali mengusikku. Hampir aku memutuskan untuk langsung ke kantor polisi saja, tapi istriku mengingatkan bahwa aku sudah berjanji untuk memberi waktu 24 jam. Ketika hampir jam sembilan malam tak juga ada kabar apapun, aku kehilangan kepercayaan pada kepala desa itu. Melihat beringasnya pemuda itu, kuragukan bahwa cara “kekeluargaan” akan bisa menjinakkannya.
Ketika aku baru saja mengunci pintu setelah pasien terakhir yang kulayani pulang, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Kuintip dari jendela (yang masih bolong) ternyata kepala desa bersama bapak tua yang kemarin sakit itu.
“Jadi bagaimana kelanjutannya Pak?” tanyaku begitu mereka kupersilahkan masuk dan kami duduk bersama di ruang tamu.
Kepala desa itu menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara. “Saya sedang berusaha menyelesaikan masalah ini, Pak Dokter. Tapi masalahnya pelaku pengrusakan yang Anda laporkan ini sedang sakit...”
“Sakit? Sakit apa? Kemarin dia sehat-sehat saja waktu melempari rumahku. Bapak lihat sendiri akibatnya...” kataku sambil menunjuk jendela yang tak berkaca lagi.
“Ya saya tahu... tapi sejak tadi pagi katanya dia sakit perut. Sekarang makin parah hingga tak bisa berdiri lagi.”
“Sakit atau pura-pura sakit? Apa dia takut akan diperkarakan ke polisi?”
“Saya tidak tahu Pak Dokter, tapi saya pegang badannya memang panas sekali, dan sekarang tak bisa diajak bicara lagi, malah meracau seperti orang kesurupan.”
“Lalu?”
“Ya.. justru saya datang sekarang ini mewakili keluarganya untuk minta maaf sekaligus minta tolong Pak Dokter untuk mengobatinya.”  
“Apa? Orang ini sudah bersikap kasar ketika pertama kali aku menolong anaknya. Dan kemarin.. lebih buruk lagi, ia merusak rumahku ketika akan minta tolong untuk mengobati bapaknya. Apakah saya bukan manusia yang tak bisa merasa sakit hati? Berani-beraninya sekarang minta tolong lagi sedangkan kemarahan dalam hati saya belum hilang. Saya tidak yakin bisa bertindak profesional dengan beban perasaan seperti ini!” 
Kepala desa hanya mengangguk-angguk sambil sesekali menarik nafas panjang. Bapak tua disampingnya hanya menunduk, meneteskan air mata, tidak berkata sepatahpun. Akhirnya mereka pun mohon diri setelah jelas tak ada lagi yang bisa dibicarakan denganku.   
“Mengapa dibuang kesempatan yang begitu bagus?” Aku kaget mendengar suara istriku yang tiba-tiba menyela dari balik tirai, ketika aku masih termangu memandang kepergian kedua orang itu.
“Kesempatan? Apa maksudmu?”
“Kesempatan untuk membuktikan keikhlasan. Selama ini Ayah banyak menolong orang... tapi bisakah membuktikan bahwa semua atas dasar keikhlasan? Banyak alasan untuk menolong: karena uang, karena kasihan, karena tugas, karena menyukai seseorang, karena ingin dapat pujian... banyak lagi alasan lain.”
“Terus?”
“Saat kita harus menolong orang yang kita benci, saat itu kita tidak punya alasan lain untuk menolong selain keikhlasan. Kelak saat Ayah berdoa, maka Ayah bisa dengan bangga menyebut di hadapan Allah bahwa Ayah pernah menolong seseorang dengan tanpa alasan lain selain ikhlas semata.”
Aku tercenung. Tak ada kata-kata lain lagi terdengar dari balik tirai. Apa yang baru saja kudengar sudah jelas maknanya, tidak perlu penjelasan lain lagi. Kumasukkan alat-alat medisku ke dalam tas kecil yang biasa kubawa kala mengunjungi pasien di rumahnya. Saat keluar rumah, kusempatkan memandang ke langit sebentar, menasehati diriku sendiri bahwa Dia sedang menyaksikan apa yang akan kulakukan. Dengan langkah-langkah ringan aku berjalan, ke rumah pemecah kaca itu.
***

#Peringkan 2 Event "Ini Karyaku" Bulan Maret *Komunitas Pena Santri
*Tentang Penulis : Rahadi Widodo. Lahir tahun 1971 di Jombang, Jawa Timur. Pernah menjadi Pimred Majalah Diagnostika, Majalah Mahasiswa FK Unibraw Malang tahun 1992. Sekarang menjadi PNS di Dinkes Muara Enim Sumsel dan menjalani tugas belajar di RSUD Saiful Anwar Malang. Alamat : Jl. Serayu Selatan No. 22A Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar