Selasa, 20 Maret 2012

Secangkir Syukur di Pagi Hari

Secangkir Syukur di Pagi Hari
Prito Windiarto*

            Syukur. Jika ia kita umpamakan secangkir teh, maka sudah selazimnya dihidangkan sedari pagi. Bahkan sejak mata ini membuka kali pertama setelah tidur. Bukankah ketika awal terjaga inilah doa kita, Alhmadulillahiladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihi nusyur? Jelas sudah, hari dimulai dengan syukur.
Kenapa syukur? Mari berdiam sejenak. Ketika kita membaca tulisan ini, organ tubuh  apa yang dominan bekerja? Mata,bibir dan otak bukan? Mereka “diperintah” untuk fokus ketika kita membaca. Sadarkah kita, di saat bersamaan tanpa diperintah pun jantung ini tetap berdegup, tanpa henti. Paru-paru berfungsi, tanpa rehat. Bayangkan saja, jika mereka izin untuk istirahat 10 menit saja, atau bahkan mogok bekerja. Apa yang kan terjadi?
Itu sekedar potongan kecil dari nikmatNya yang tak terhingga. Anugerah yang dilimpahkanNya cuma-cuma, gratis! Oksigen yang kita hirup, air hujan yang turun, semuanya nir-biaya. Belum lagi perihal rizki dan banyak lainya. Pertanyaan selanjutnya, dengan apa kita membalas semua rahmat Allah itu? Ibadah. Itu jawabannya. Lebih khususnya syukur.
Maha Mulia Allah karena menjanjikan tambahan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur. “Jika kamu bersyukur, “ Firman Allah, “Maka aku akan tambahkan”. Indah sekali bukan? Sebaliknya,  “Jika Kufur, sungguh adzabku sangat pedih!.”
 Sebuah penelitian medis menerangkan perihal manfaat bersyukur (Majalah Sabili, 2009) Dalam penelitian itu disebutkan orang yang lebih banyak (sering) bersyukur cendrung lebih bahagia, lebih menerima hidup dan berusia panjang. Sebaliknya orang yang kurang bersyukur cendrung lebih gampang stress, gelisah dan berusia pendek.
Syukur memang dekat dengan qonaah (merasa cukup). Orang yang bersyukur biasanya lebih berterima atas pemberianNya. Tak mudah merutuk, tapi bukan berarti cepat berpuas diri.
Sayang, tabiat bersyukur ini tampaknya mulai hilang dari sebagian kita. Hemat saya, ketika pemahaman perihal kesyukuran terpatri kuat dalam diri niatan korupsi takkan menghampiri. Kenapa? Karena ia sadar, segalanya milik Allah. Rizki, sebesar atau sekecil apapun itu dariNya, titipanNya. Kewajiban kita mensyukurinya. Dengan apa? Lisan, dan tentu saja perbuatan. Kita memanfaatkan rizki kita dalam kebaikan, kita menjauhi tindakan curang (korupsi) adalah bagian dari syukur itu sendiri.
Sekali lagi, selayak teh hangat, syukur selazimnya dihadirkan sejak pagi. Biarkan aroma secangkir syukur menenangkan syaraf kita. Biarkan satu tegukannya membunuh dahaga, sehingga kita tak tergoda meminum ‘fitnah’ kesenangan dunia.
Mari menyeruput secangkir syukur di pagi hari.
Alhmadulillahi Rabbil Alamin.

 Army.020312.
*Sekretaris Umum UKM Lembaga Dakwah Kampus Raudlatul Muttaqin Universitas Galuh, Ciamis. Penulis Novel Tiga Matahari. Pimpinan Umum KPS www.pena-santri.blogspot.com
         

5 komentar: