Selasa, 14 Februari 2012

Resensi Buku : Memahami si Maya yang Seksi


Memahami si Maya yang Seksi

Dimuat di koran jakarta http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/82968

« Buku ini sangat memberi pemahaman baru tentang perspektif baru internet, dan mencoba memberikan penyadaran dasar serta jauh ke depan bagi para pembacanya. »

Anda mungkin merasa janggal dengan judul tulisan saya ini, mungkin sebagian anda pun akan mengira bahwa saya akan membahas artis yang populer saat ini. Tapi, bukan itu yang saya maksud. Maya di sini adalah dunia maya, internet. Judul ini pun menyadur tulisan Arief Hidayatullah, si maya nan seksi. Yang tergabung dalam buku, Internet Menuju Cyber Village.

Sebuah buku antologi bertemakan internet karya beberapa mahasiswa dan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang yang tergabung dalam Journalistic Club. Dalam tulisan pembuka, Arif Hidayatullah memulai buku ini dengan beberapa riwayat internet sebelum menjadi seperti saat ini.

Internet adalah interconnected-networking, yakni sistem global dari seluruh jaringan computer yang saling terhubung satu sama lain dengan menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia. Dunia dijalin satu sama lain menjadi ruang yang tidak lebih besar dari layar berukuran 17 inchi.

Kemudian dia mengatakan pula, bahwasanya internet sejarahnya lahirnya adalah dari rahim militer. Yang dimulai pada tahun 1969 ketika itu Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset bagaimana cara menghubungkan sejumlah computer sehingga membentuk jaringan organik.

Bertahun terus berkembang, sampai pada tahun 1990, tahun di mana paling bersejarah ketika Tim Benners Lee menemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antara satu komputer dengan komputer lainnya, yang membentuk jaringan itu.

Program itu disebut World Wide Web (WWW). Setelah menerangkan bagaimana sejarah internet, penulis dalam buku ini juga menuliskan tentang adidaya internet. Seperti Nurudin yang menuliskan fenomena twitter, facebook dan berbagai jejaring sosial lainnya. Yang mampu menjadi sarana kemenangan bagi masyarakat timur tengah, seperti Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, yang bergejolak menginginkan revolusi.

Kemenangan revolusi mereka tak terlepas dari andil jejaring sosial yang mampu dijadikan sarana oleh masyarakat yang memperjuangkan revolusi waktu itu. Baik untuk koordinasi, maupun memprovokasi masyarakat lainnya agar juga menginginkan revolusi juga. Fenomena lain yaitu kekuatan youtube yang mampu mengorbitkan orang biasa jadi orang terkenal (artis). Bagaimana Justien Beiber meledakkan pasar industri musik dunia, karena dia meng-uploud, video ketika dia menyanyi di youtube.

Contoh lain yang tak perlu jauh-jauh dari negeri barat, di Indonesia pun banyak artis-artis youtube, Sinta-Jojo dengan lip sinc keong racun, Bona Paputungan, Udin Sedunia, Briptu Norman Kamaru dan terbaru ustadz M Nur Maulana. Anehnya, tak hanya artis yang diproduksi youtube, tetapi juga ustadz. Mungkin, lebih tepatnya ustadztainment, ustadz yang lebih banyak nilai menghibur daripada pesan yang disampaikan.

Selain itu, di chapter terakhir, Sugeng Winarno menulis tentang sisi lain dunia cyber. Suatu hal dalam internet yang sudah menjadi rahasia umum, cyberpo-rn adalah sisi lain yang utama dalam internet. Ini menjadi sisi negatif internet dari berbagai sisi positifnya, dan ini sangat mengkhwatirkan. Terbukti, survey yang pernah dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak (KPA) terhadap 4.500 siswa di 12 kota besar di Indonesia menunjukkan data bahwa 97 persen dari responden pelajar SMP dan SMA pernah mengakses situs por-no. Dan itu tak mengherankan bagaimana sudah tersebar banyak videovideo po-rno yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur.

Mengerikan. Penulis lain, Ditalia juga sempat melakukan observasi di lapangan bagaimana facebook, menjadi sarana interaksi remaja-remaja di bawah umur melakukan s-ex bebas. Teknologi selalu memiliki dua sisi mata uang, kebaikan atau keburukan. Tak terkecuali internet, jika tidak kita gunakan untuk kebaikan maka potensi keburukannya akan menjadi dominasi.

Buku ini sangat memberi pemahaman baru tentang perspektif baru internet, dan mencoba memberikan penyadaran dasar serta jauh ke depan bagi para pembacanya. Dari maya yang seksi, karena kita harus berhati-hati serta awas memakainya, agar tak tergenlicir pada keseksiannya fana.

Judul : Internet Menuju Cyber Village
Penulis : Arief Hidayatullah, dkk.
Penerbit : Leutika PrioTahun
Terbit : Juni, 2011
Tebal : 80 hal

-Peresensi adalah Muhammad Rasyid Ridho, Aktivis Forum Lingkar Pena Malang Raya dan Journalistic Club Ikom UMM, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar