Kamis, 21 Juli 2011

Meneladani Said Bin Amir Al Jumahi






Oleh: Pirman (Usman Alfarisi)

Pada masa pemerintahan Umar Bin Khattab, ada sebuah kisah yang membuat kita takjub. Kisah pengangkatan salah satu gubernur di daerah Al Hims. Waktu itu, sang Khalifah yang terkenal tegas ini meminta kepada sahabatnya, Said Bin Amir Al Jumahi untuk menjadi gubernur di daerah Al Hims. Al Faruq – julukan Umar- bukanlah sembarangan dalam menunjuk. Said adalah pribadi yang terbukti jujur dan tulus. Yang Ia lakukan pastilah tulus karena Allah dan Rasulnya.
Maka, Umar berkata, “ Wahai saudaraku, Aku serahkan Al Hims kepadamu. Jadilah pemimpin yang menegakkan kalimat Allah di bumiNya.” Dengan terbata, Sahabat yang juga tawadhu’ ini menolak, dengan halus. Ia tidak mau hisabnya di akhirat diperberat karena kekhawatirannya jika tidak amanah. Maka, Umar pun mendesak dan mengingatkan kepada Said agar ia mematuhi Perintah Allah, RasulNya dan pemimpin kaum muslimin yaitu Umar sendiri. Said pun akhirnya menyanggupi amanah itu. Ia memimpin Al Hims.


Setelah berlalu bebarapa masa kepemimpinan Said. Umar mengundang beberapa utusan dari Al Hims untuk menghadap kepadanya. Kata umar, “Tulislah nama - nama fakir miskin yang ada di daerah kalian!” Perintah Al Khattab. Utusan itu pun menulis sejumlah nama dan menyerahkannya kepada Amirul Mukminin. Ia terhenyak, kaget bukan kepalang ketika mendapati dalam daftar fakir miskin itu terdapat nama Said Bin Amir. Umar bertanya heran kepada utusan itu, “ Siapakah Said Bin Amir? ” Sang utusan menjawab, “ Ia adalah pemimpin Kami, Gubernur Al Hims. Sudah beberapa hari ini dapurnya tidak mengepulkan asap. Ia tidak punya apapun untuk sekedar memenuhi perutnya dan keluarganya.” Allahu Akbar walillahil Hamd.


Maka, Umar pun iba. Hatinya yang gagah menjadi leleh. Ia menangis. Lalu dititipkannya 100 dinar kepada sang utusan, “ Berikan ini, sedekah dariku untuk pemimpinmu.” Sang utusanpun pulang. Sesampainya di Kantor kegubernuran, ia memberikan titipan dari sang khalifah. Said pun membuka titipan itu. Seketika itu juga, ia memerintahkan kepada stafnya untuk membagikan sedekah itu. Katanya, “ Bagikan ini kepada fakir miskin. Sungguh! Gajiku dari Baitul Maal jauh lebih cukup untuk sekedar menghidupi diri dan keluargaku.” Kita selayaknya malu. Malu bercampur takjub. Bertasbih kepada Allah karena hambaNya yang luar biasa ini. Dimana pada saat-saat seperti ini, Kita membutuhkan sosok Said yang teguh. Yang mengatakan “Gaji saya cukup” padahal dalam beberapa hari dapurnya tidak mengepulkan asap, karena tidak ada appun untuk dimasak. Sementara Ia adalah seorang Gubernur.


Lantas, apakah Said termasuk orang yang enggan dengan harta? Apakah Ia termasuk orang yang menjauhi harta dengan dalih Zuhud? Tidak. Sebelum menjabat sebagai gubernur, ia adalah seorang saudagar kaya yang omset kekayaannya setara dengan Abu Sufyan dan saudagar Arab lainnya. Sebelum menjabat, Said adalah pribadi yang dekat dan karab dengan harta. Tapi, Ia sadar. Kepemimpinan bukanlah untuk memperkaya asset. Bukan untuk menumpuk harta. Bukan! Bagi dia kepemimpinan adalah sarana untuk melayani. Sarana untuk meratakan kemakmuran. Agar Islam, terasa rahmatnya, bagi seluruh alam.


Adakah di zaman globalisasi ini, pemimpin seperti Said Bin Amir yang begitu dihormati namun tak mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari? Bahkan, Pemimpin kita sekarang, lebih suka bermewah-mewahan sementara rakyatnya kelaparan.


Kita berharap, dan akan terus berupaya, agar pribadi seperti Said ini akan terus ada. Yang merasa perlu berbagi meski ia sangat membutuhkannya. Yang terus memberi meski diri dan keluarganya kekurangan. Mudah mudahan Allah menjadikan kita penerus generasi itu, generasi terbaik yang pernah dimilki oleh umat ini. Bukan generasi yang sebaliknya. Generasi yang cinta harta, kemudian mengampu jabatan, bukan untuk melayani, melainkan menambah pundi - pundi harta, baik untuk dirinya, keluarga besarnya, ataupun partainya.


Seperti halnya said, mulai sekarang kita akan belajar, minimal berniat untuk menyerupainya. Meski kita faham, kita sadar, kita takkan mungkin bisa seperti dirinya. Hanya mendekati.
“Wahai Said Bin Amir, berbahagialah dengan nikmat Tuhanmu karena amal perbuatanmu ketika di dunia ini. Kami menjadi saksi atas kebaikanmu. Wallahu A’lam.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar